Pengaruh Tekanan Akademik Terhadap Depresi Remaja



 

 Oleh: Hanum Rizki

Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Kedokteran Prodi Psikologi USK Banda Aceh

 

SABANGINFO.COM, BANDA ACEH - Fase remaja merupakan proses menuju dewasa yang dimana di dalamnya kita dituntut untuk membentuk diri, menyusun rencana masa depan akan menjadi apa, fase ini berlangsung di sekitar umur 15-24 tahun.

Seringkali menyebabkan penurunan prestasi, motivasi belajar, dan konsentrasi. Remaja yang depresi berisiko lebih tinggi membolos, mengulang kelas, atau putus sekolah. 

Sebaliknya, tekanan akademik yang tinggi dapat memicu stres, kecemasan, dan depresi.

Berikut adalah rincian dampak dan faktor terkait depresi terhadap fungsi akademik remaja:

  • Penurunan Performa Akademik: Depresi berkaitan langsung dengan nilai rata-rata yang lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh kesulitan konsentrasi, kelelahan emosional, dan kehilangan minat pada studi.
  • Perilaku Bermasalah di Sekolah: Remaja dengan depresi cenderung sering membolos atau meninggalkan sekolah lebih awal.
  • Ketakutan akan Kegagalan: Banyak remaja mengalami kecemasan berat terkait prestasi, ketakutan mendapatkan nilai buruk, dan kebingungan saat ujian.
  • Penurunan Kognitif & Fokus: Depresi memengaruhi fungsi kognitif, membuat remaja sulit berpikir jernih dan fokus pada materi pelajaran.
  • Stres Akademik sebagai Pemicu: Tuntutan tugas yang tinggi, tekanan prestasi, dan manajemen waktu yang buruk meningkatkan risiko depresi. 

Tuntutan pendidikan atau akademik, pendidikan adalah faktor utama yang berkontribusi pada ekspetasi orang tua, terkadang orang tua ingin sekali anaknya berpendidikan tinggi sehingga tanpa disadari orang tua justru menekan anak agar terus tekun belajar meskipun bidang anak tidak di akademik.

 

Peristiwa seperti ini yang mengakibatkan anak menjadi susah belajar karena mendapatkan tekanan ataupun anak menjadi terlalu rajin akibat desakan orang tuanya. Tekanan akademik muncul karena individu merasa apa yang dihadapi nya tidak sepadan
dengan kemampuannya, 

 

 di kalangan remaja, mereka harus mampu menyelesaikan ujian dengan baik, mendapatkan nilai yang bagus dan persaingan srkolah tinggi, untuk mendapatkan semua itu mereka harus belajar dengan keras tidak peduli seberapa banyak waktu yang diperlukan. Tuntutan akademik seperti ini bisa menimbulkan penyakit psikologis serius seperti depresi.


Di Indonesia sendiri, sekitar 2% di tahun 2023 menurut data SKI ( Survei Kesehatan Indonesia )
yang mengalami deperesi, dan mayoritas pernah berfikiran untuk mengakhiri hidupnya. Di Jakarta
perkiraan previlensi nya sekitar 12,6% - 23,5 % untuk data ini tergantung kelompok remaja apakah
sekolah atau di luar sekolah. Terdapat penelitian langsung mengenai depresi akademik, penelitian
tersebut menyebutkan bahwa tekanan akademik ini muncul karena ketidakseimbangan dalam
menyetarakan antara tuntutan akademiknya dan juga bagaimana individu menghadapinya (
Mufadhal dan Ifdil, 2017 ).

 

 Remaja mengalami kondisi seperti ini terlalu lama maka akan berakibat pada mental psikologis individu yang berujung pada gangguan emisonal. Tekanan akademik mampu membuat individu merasa letih, tidak berdaya serta frustasi bahkan kehilangan minat untuk belajar di sekolah ketika tuntutan melebihi kemampuan emosional individu. 

 

 Saat individu dihadapkan dengan keadaan seperti yang menimbulkan setres berlebih tanpa dukungan apapun baik dorongan emosional dan juga sosial, hal ini menjadikan alasan yang kuat mengapa timbulnya depresi pada individu tersebut. 

 

Depresi remaja dapat diawali dengan kehilangan keinginan untuk mencapai sesuatu, kesulitan dalam berkonsesntrasi, serta menurunnya fungsi sosial dan juga akademiknya. Depresi memberikan dampak signifikan bukan hanya kepada dirinya sendiri, juga mempengaruhi keseluruhan kualitas kehidupan mulai dari prestasi sekolah dan hubungan interpersonal. 

 

 Remaja menjadi sulit bergaul, mereka memilih untuk menarik diri dari lingkungan sosial. Jika terus dibiarkan akan mengalami resiko perilaku berbahaya. 

 

Penelitian yang dilakukan oleh Trifonia dan Israfil (2022) menjelaskan bahwa stres berkepanjangan tanpa penanganan bisa mempengaruhi langsung terhadap emosional remaja serta turunnya kualitas mereka dalam beradaptasi terhadap tuntutan hidup.


Upaya dalam menangani depresi akademik pada remaja harus melibatkan strategi komphensif,
strategi ini mencakup beberapa unsur seperti latihan manajemen stress dengan didukung dari
lingkungan sosial seperti keluarga dan sekolah dan peningkatan akses layanan konseling
professional. 

Langkah Penanganan:

 
Pihak sekolah dan orang tua perlu mengenali tanda-tanda seperti murung, menarik diri, dan perubahan pola makan/tidur. Intervensi seperti konseling rutin dan pelatihan manajemen stres sangat penting untuk membantu remaja
 

Peristiwa ini dibuktikan dapat mengurangi tingkat stres akademik pada remaja dan memiliki dampak positif yang kuat terhadap kesehatan mental secara umum.( I Gusti Ayu, 2025 ) Kesimpulannya adalah tekanan akademik dapat mengganggu sisi psikologis remaja termasuk peningkatan resiko depresi. 

 

Di Indonesia remaja dengan gangguan depresi akibat tekanan akademik ataupun faktor psikososial lainnya masi tergolong umum. Oleh karena itu, memperhatikan manajemen tekanan akademik dan kesehatan mental remaja masih menjadi hal yang penting untuk meningkatkan upaya kemajuan berkembang generasi muda.[]