SMONG Sebagai Memori Kolektif Membentuk Respon Psikologis Mitigasi Bencana



Oleh : Hani Aulia Zahra

Penulis adalah Mahasiswi Prodi Psikologi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.


SABANGINFO.COM, BANDA ACEH - Provinsi Aceh adalah salah satu daerah yang rentan dengan bencana. baik Bencana Alam maupun Bencana Non Alam. 

Dibuktikan dengan deratan Bencana yang pernah terjadi di Aceh yaitu  Seperti Tanggal 26 Desember 2004, hari yang Paling bersejarah bagi Masyarakat Aceh yaitu Gempa Bumi dan Tsunami maha Dasyatnya.

Sedangkan tahun 2025, Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA),  tercatat sebanyak 387 kejadian bencana terjadi di berbagai wilayah Aceh, mulai dari kebakaran permukiman, banjir, kebakaran hutan dan lahan, angin puting beliung, longsor, hingga kejadian gempabumi dan abrasi.

 

Salah satu kejadian yang paling menonjol adalah bencana banjir hidrometeorologi yang terjadi pada akhir November 2025. Bencana ini berdampak pada 18 kabupaten/kota, dengan 15 kabupaten/kota menetapkan status tanggap darurat bencana sebagai langkah percepatan penanganan di lapangan.

 

Nah, ada satu kearifan Lokal masyarakat di Kabupaten Simeulu Aceh dalam  menghadapi Bencana mereka melakukan preventif dengan suatu lantunan Syair yang memberi nasihat dan ajakan kepada warganya untuk menyelamatkan diri dari bencana.

 

Tahukah kalian jika ada kearifan lokal yang dijadikan sebagai salah satu bentuk mitigasi bencana di daerah Simeulue? 


yaitu " Smong"  adalah kearifan lokal masyarakat Pulau Simeulue, Aceh, berbentuk tradisi lisan (cerita, nyanyian, syair/nandong) yang diwariskan turun-temurun untuk mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami. Secara harfiah dalam bahasa Devayan, smong berarti hembusan gelombang air laut (tsunami).


Smong ini sampai sekarang masih efektif dan berlaku dalam masyarakat Simeulu.

 

Smong merupakan salah satu contoh nyata bagaimana memori kolektif berperan penting dalam menyelamatkan kehidupan manusia, khususnya dalam konteks bencana. 


smong tidak hanya sekadar cerita tentang tsunami, tetapi menjadi ingatan bersama yang diwariskan secara turun-temurun melalui cerita lisan, nyanyian, dan pengalaman hidup. 


Memori kolektif ini terbentuk dari pengalaman traumatis masa lalu, sehingga memiliki kekuatan emosional yang tinggi dan melekat kuat dalam kesadaran masyarakat. Karena terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari, smong menjadi pengetahuan yang tidak asing dan mudah diingat oleh setiap generasi.


Dalam perspektif psikologi, manusia secara alami memiliki respon terhadap ancaman yang dikenal sebagai fight, flight, dan freeze. Respon ini biasanya muncul secara spontan ketika individu sesorang menghadapi situasi berbahaya. Namun, tanpa pengetahuan atau pengalaman sebelumnya, banyak orang cenderung mengalami freeze, yaitu kondisi diam, bingung, atau tidak mampu mengambil tindakan dan alternatif aksi  karena dalam keadaan situasi  panik. 

 

Sehingga ia hanya Pasrah dengan keadaan apa adanya. Padahal di saat bencana datang, kita harus beriktiar untuk menyelamat jiwa, harta dan Keluarga. 

Namun itu tergantung kondisi Bencana, minimal kita berupaya menyelamatkan diri sendiri.

Maka Smong salah satu atraksi kearifan lokal dalam meminimalisir Korban Bencana dan Kesiapan siagaan dalam menghadapi Bencana.

 

Berbeda Kondisi daerah ynag tidak memiliki kearifan lokal dalam mitigasi bencana  yang menyebabkan banyak jatuh korban. Hal ini sering terjadi pada masyarakat yang tidak memiliki kesiapsiagaan terhadap bencana.


Masyarakat Simeulue menunjukkan pola respon yang lebih adaptif. Berkat adanya smong sebagai memori kolektif, mereka mampu mengenali tanda-tanda awal tsunami, seperti air laut yang tiba-tiba surut. 


Pengetahuan ini secara tidak langsung “melatih” sistem kognitif mereka, sehingga ketika ancaman muncul, respon yang diambil bukan lagi freeze, melainkan flight, yaitu segera menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi. memori kolektif ini berfungsi sebagai penghubung  antara pengalaman masa lalu dengan respon otomatis manusia di masa kekinian.


Disamping  itu, smong juga membentuk respon yang tidak hanya bersifat individu, tetapi juga kolektif. Ketika tanda bahaya muncul, masyarakat tidak bergerak sendiri-sendiri, melainkan saling mengingatkan dan bertindak bersama.


 peristiwa ini menunjukkan adanya integrasi antara aspek kognitif, emosional, dan sosial dalam respon terhadap bencana. Dalam psikologi bencana, kondisi ini sangat penting karena dapat meningkatkan kecepatan dan efektivitas evakuasi serta mengurangi jumlah korban.


Dengan demikian, smong membuktikan bahwa respon alami manusia terhadap ancaman tidak sepenuhnya bersifat spontan dan acak, tetapi dapat dipengaruhi dan diperkuat oleh memori kolektif yang hidup dalam budaya masyarakat. Ketika memori tersebut terus diwariskan, dipahami, dan diterapkan, maka ia tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi juga menjadi panduan nyata dalam menghadapi risiko di masa depan.[]