Ketika Lelah Terus Menerus



 Oleh : Mufidah Syahfitri BM

Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Kedokteran Prodi Psikologi USK Banda Aceh 

SABANGINFO.COM, BANDA ACEH - Mungkin anda sering merasa malas untuk berangkat kuliah, atau  anda sering merasa lelah terus sampai susah buat fokus. Nah, Kalau kamu pernah atau sedang merasakan hal ini kamu tidak sendirian. Ada banyak mahasiswa yang lain  yang  merasakan hal serupa.

 

Namun, banyak mahasiswa yang menganggap hal tersebut biasa saja. Padahal bisa saja itu tanda orang yang mengalami burnout, sebuah kondisi di mana fisik, motorik, dan emosional mengalami kelelahan akibat stres berkepanjangan, terutama dari tekanan akademik (Arif & Wijono, 2022).

 

Jose, Effendi, dan Matore (2021) juga menjelaskan bahwa burnout terjadi ketika seorang  merasa sangat letih secara emosional dan tidak memiliki tenaga untuk bekerja secara terus menerus.

 

Bukan hanya sekadar kelelahan, burnout juga merenggut semangat, motivasi hingga keinginan untuk melakukan hobby. Artinya, begitu dahsyat dampak burnout bagi seseorang. Kondisi ini memang kurang difahami banyak orang.

 

Terminologi Burnout  sendiri, pertama kali digagas oleh Herbert Freudenberger pada tahun 1970-an, ia mengatakan bahwa kondisi burnout ketika seorang individu mengalami kelelahan dan frustasi yang muncul akibat lingkungan tidak memberikan harapan yang sesuai (Arroisi & Afifah, 2022).

 

Lelah terus-menerus (kronis) sering kali bukan sekadar kurang tidur, melainkan sinyal tubuh adanya masalah fisik (anemia, diabetes, tiroid, sleep apnea), mental (stres, depresi, burnout), atau gaya hidup (nutrisi buruk, kurang gerak). Jika terjadi >4 minggu, segera ke dokter untuk pemeriksaan.

Penyebab Umum Lelah Kronis:

  • Masalah Medis: Anemia, gangguan tiroid (hipo/hipertiroid), diabetes, gagal jantung, atau infeksi virus.
  • Gangguan Tidur: Sleep apnea (mendengkur/napas terhenti saat tidur) atau insomnia.
  • Faktor Mental/Psikologis: Stres berkepanjangan, kecemasan, atau depresi.
  • Gaya Hidup: Kurang nutrisi (zat besi, B12), dehidrasi, terlalu banyak kafein/alkohol, atau kurang aktivitas fisik

 

Jadi, di kalangan mahasiswa seperti kita, hal ini sering muncul jika tugas yang diberikan sangat banyak dengan deadline bersamaan. Akibatnya tugas yang semula menyenangkan berubah menjadi tuntutan yang harus diselesaikan.

 

Perlu diingat bahwa burnout tidak datang begitu saja, melainkan datang secara bertahap. Awalnya hanya lelah seperti kekurangan waktu tidur,  tapi kelamaan semangat mulai hilang hingga kesulitan untuk fokus. Jika kita sadar, hal seperti ini akan terus menerus terjadi dan akan dianggap "normal" (Suha dkk, 2022).

 

Selain itu ada variabel lain yang perlu kita fahami yang juga berperan penting yaitu self-efficacy. Self-efficacy atau efikasi diri adalah kepercayaan diri seseorang bahwa ia dapat melakukan apapun. Mahasiswa yang memiliki efikasi diri yang tinggi tidak akan mudah menyerah melainkan menguji berbagai alternatif yang menghasilkan keberhasilan (Maisaroh & Kholishna 2024).

 

Maka, untuk memahami lebih dalam mengapa burnout dapat terjadi, kita juga perlu melihat faktor psikologis lain, yaitu self-efficacy. Burnout dan self-efficacy memiliki hubungan yang saling berkaitan.

Self-efficacy atau efikasi diri digagas pertama kali oleh Albert Bandura pada tahun 1977, ia mengatakan bahwa efikasi diri adalah keyakinan individu terhadap kemampuannya untuk mengorganisir dan melaksankan tindakan untuk mendapatkan suatu tujuan.

 

Individu dengan self-efficacy tinggi cenderung lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan, pantang menyerah, serta mampu mengelola tekanan dengan baik.

 

Untuk memahami terjadinya burnout, perlu dilihat hubunganantara efikais diri, stres, dan persepsi tugas. Menurut Albert Bandura, efikasi diri memengaruhi bagaimana individu memandang dan menghadapi tuntutan. Ketika efikasi diri rendah, individu cenderung memandang tugas sebagai sesuatu yang berat, sehingga meningkatkan stres yang pada akhirnya dapat memicu burnout. Hubungan ini dapat digambarkan dalam sebuah alur sebab akibat seperti berikut.

 

• Jika seseorang merasa dirinya tidak mampu (efikasi diri rendah) -> tugas terasa berat

• Jika tugas terasa berat -> stres meningkat

• Jika stres meningkat -> terjadi burnout

• Jika seseorang merasa dirinya tidak mampu -> akan terjadi burnout

Individu dengan self-efficacy yang rendah cenderung memandang tugas sebagai sesuatu yang sangat sulit dari kenyataannya. Hal ini meningkatkan tekanan psikologi yang pada akhirnya dapat memicu terjadinya burnout.

Oleh karena itu, penting untuk mengetahui langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi situasi tersebut.

1. Kenali kemampuan diri sendiri

Jangan paksakan diri harus mendapatkan sesuatu yang sempurna.

2. Reset prioritas

Mulai dari hal yang terpenting dan jangan kerjakan semua hal secara bersamaan.

3. Mulai bangun self-efficacy

Mulai dengan hal yang realistis dan mudah untuk dicapaikemudian berikan reward untuk diri sendiri.

4. Cari support system

Teman, keluarga atau dosen dapat menjadi tempat berbagi.

5. Istirahat yang berkualitas

Istirahat yang cukup dan pola yang terjaga membuat istirahat yang berkualitas.

 

Cara Mengatasi Lelah yang Terus Menerus:

  • Perbaiki Kualitas Tidur: Atur jadwal tidur konsisten dan ciptakan kamar yang nyaman.
  • Pola Makan Seimbang: Konsumsi makanan kaya nutrisi dan cukupi kebutuhan cairan.
  • Kelola Stres: Lakukan relaksasi, hobi, atau meditasi untuk mengatasi burnout mental.
  • Olahraga Ringan: Bergerak aktif dapat meningkatkan stamina, bukan sebaliknya.
  • Periksa ke Dokter: Jika lelah berlangsung lebih dari 6 bulan dan tidak membaik dengan istirahat, segera periksakan diri.


Merasa lelah terus menerus, mungkin itu bukan karena kamu malas, tapi karena kamu terlalu lama bertahan lama tanpa istirahat. Dengan memahami burnout dan self-efficacy, kamu bisa mulai mengambil kendali dirimu sepenuhnya lagi.[]