Oleh: Zhafira Nasywa Almuja
Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Kedokteran Prodi Psikologi USK Banda Aceh
SABANGINFO.COM, BANDA ACEH - Kondisi Sekarang, Banyak orang merasa gelisah hanya dengan memikirkan hal–hal kecil dalam kehidupan sehari–hari. seperti karena sebuah pesan yang belum dibalas? Atau bahkan tiba–tiba teringat hal kecil yang sudah berlalu?
Tanpa disadari, banyak dari kita sering terjebak dalam pola pikir yang berulang, berlebihan, dan berbagai kemungkinan yang belum tentu benar. Fenomena ini dikenal sebagai overthinking, yaitu kondisi dimana seseorang memikirkan sesuatu secara terus–menerus hingga menimbulkan kecemasan. Meskipun hal ini terlihat sepele, overthinking dapat memengaruhi kondisi mental dan cara seseorang menjalani kehidupannya.
Overthinking (berpikir berlebihan) umumnya disebabkan oleh rasa cemas tinggi, trauma masa lalu, perfeksionisme, dan ketakutan akan kegagalan. Kondisi ini sering dipicu oleh kebiasaan membandingkan diri di media sosial, tekanan hidup, atau stres berkepanjangan. Akibatnya, seseorang terperangkap dalam siklus pikiran negatif yang tidak produktif
Seharusnya Pikiran Itu sederhana saja, tidak terasa rumit karena otak terus menganalisa. Hal ini sering kali terjadi tanpa control yang disadari. Akibatnya, seseorang akan sulit membedakan antara asumsi dan fakta. Salah satu contoh nyata overthinking dapat dilihat dalam situasi komunikasi sehari–hari.
Berikut adalah rincian penyebab overthinking yang umum:
- Kecemasan dan Kekhawatiran (Anxiety): Rasa takut berlebihan terhadap masa depan atau hasil dari suatu situasi.
- Perfeksionisme: Ketakutan untuk membuat kesalahan atau kegagalan mendorong seseorang menganalisis segala hal secara berlebihan (analisis-kelumpuhan).
- Trauma atau Pengalaman Negatif: Kejadian masa lalu yang belum terselesaikan dapat memicu otak untuk memikirkan skenario terburuk secara berulang.
- Rendahnya Kepercayaan Diri: Merasa kurang aman (insecure) membuat seseorang sering meragukan keputusan diri sendiri.
- Tekanan Sosial dan Media Sosial: Membandingkan kehidupan pribadi dengan orang lain di media sosial sering memicu rasa kurang berharga dan overthinking.
- Ketidakpastian (Uncertainty): Ketidakmampuan untuk menerima situasi yang tidak pasti memicu dorongan untuk mencari jawaban yang seringkali tidak ditemukan.
- Kurang Pengelolaan Emosi: Kesulitan dalam mengelola emosi negatif menyebabkan pikiran dipenuhi oleh kekhawatiran
Ketika seseorang mengirim pesan kepada temannya tidak mendapat balasan segera, pikiran mulai bekerja lebih jauh. Ia mungkin akan berpikir bahwa temannya tidak menyukai dirinya tau marah kepadanya. Padahal, temannya bisa saja sedang sibuk, atau sedang dalam pembelajaran di kuliah maupun sekolah. Namun, pikiran yang sederhana menjadi pikiran berlebihan yang terasa lebih kompleks.
Overthinking juga sering dipengaruhi oleh rasa takut terhadap penilaian dari orang lain. Banyak individu merasa khawatir akan bagaimana mereka dilihat oleh linkungan sekitar. Perasaan ini membuat seseorang akan cenderung lebih memikirkan setiap tindakan yang dilakukannya. Bahkan, kesalahan kecil bisa terus diingat dan dipikirkan berulang kali. Akibatnya, seseorang menjadi kurang percaya diri dalam bertindak.
Selain itu, pengalaman masa lalu juga dapat menjadi pemicu overthinking. Pengalaman negatif yang pernah terjadi bisa membentuk pola pikir yang lebih waspada. Seseorang akan menjadi mudah untuk curiga kemungkinan buruk di masa depan. Hal ini sebenarnya merupakan bentuk perlindungan diri secara psikologis. Namun, jika berlebihan justru akan menimbulkan kecemasan yang tidak perlu.
Dampak dari overthinking tidak bisa dianggap remeh dalam kehidupan sehari – hari. Seseorang dapat merasakan lelah secara mental meskipun tidak melakukan aktivitas fisik yang berat. Pikiran yang terus menerus bekerja membuat energi terkuras tanpa disadari. Selain itu, overthinking juga dapat mengganggu kosentrasi dalam bekerja atau belajar. Jika dibiarkan begitu saja, kondisi ini bisa memengaruhi kualitas hidup seseorang.
Untuk mengatasi overthinking, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menyadari pola pikir tersebut. Seseorang perlu memahami bahwa tidak semua pikiran merupakan fakta. Mengalihkan fokus pada hal yang lebih nyata dan bermakna akan dapat membantu mengurangi kecemasan. Selain itu, penting untuk membatasi diri dari memikirkan sesuatu secara berlebihan. Dengan latihan yang konsisten, overthinking dapat dikendalikan secara perlahan.
Selain itu, penting untuk memahami bahwa overthinking sering kali muncul karena kebiasaan berpikir yang tidak disadari. Pikiran yang terus berputar biasanya dipicu oleh hal–hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu penting. Namun, karena dibiarkan, hal tersebut berkembang menjadi kekhawatiran yang lebih besar. Kebiasaan ini dapat membentuk pola pikir negatif jika tidak segera dikendalikan. Oleh karena itu, mengenali pemicu overthinking menjadi langkah yang sangat penting.
Di sisi lain, lingkungan juga dapat memengaruhi kecenderungan seseorang untuk overthinking. Tekanan dari lingkungan sosial, keluarga maupun akademik dapat membuat seseorang merasa harus selalu untuk sempurna. Perasaan tersebut akhirnya memicu pikiran berlebihan ketika menghadapi situasi tertentu. Sesorang menjadi lebih sensitif terhadap hal – hal kecil yang sebenarnya wajar terjadi. Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan ini dapat memperparah kondisi overthinking.
Pada akhirnya, overthinking merupakan hal yang wajar dialami oleh banyak orang. Namun, penting untuk tidak membiarkan pikiran untuk menguasai diri sepenuhnya. Mengelola cara berpikir menjadi kunci utama dalam menghadapi situasi sehari – hari. Dengan memahami penyebab dan dampaknya, seseorang dapat lebih bijak dalam menyikapi pikirannya. Maka dari itu, kehidupan akan dapat dijalani dengan lebih tenang dan seimbang.
Mengelola overthinking dapat dilakukan dengan cara membatasi penggunaan media sosial, fokus pada hal yang bisa dikendalikan, dan berlatih hidup di masa sekarang (mindfulness).[]
