Dampak Psikologis Anak Terhadap Pola Asuh Strict Parents



 Oleh : Fatimatuzzahra 

Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Kedokteran Prodi Psikologi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh  

SABANGINFO.COM, BANDA ACEH - Pola asuh orang tua memiliki peran penting dalam perkembangan psikologis anak. Salah satu pola asuh yang banyak dikaji dalam psikologi adalah strict parenting atau pola asuh otoriter. 

 Pola asuh ini ditandai dengan kontrol yang tinggi, aturan yang ketat, serta minimnya komunikasi dua arah antara orang tua dan anak.

Strict parents adalah pola asuh otoriter di mana orang tua menerapkan aturan sangat ketat, kontrol tinggi, dan disiplin kaku tanpa banyak ruang diskusi atau kebebasan bagi anak. Mereka berfokus pada hasil, memiliki ekspektasi tinggi, dan sering menerapkan hukuman

Adapun ciri - cirinya sebagai berikut:

1. Aturan Kaku & Banyak: Menetapkan batasan ketat pada perilaku, aktivitas, dan pilihan anak.

2. Komunikasi Satu Arah: Minim dialog, anak jarang didengar pendapatnya.

3. Hukuman & Kurang Apresiasi: Cenderung menghukum daripada menegur, jarang memuji usaha.

4. Mengontrol Pilihan: Mendikte hobi, pertemanan, hingga masa depan anak

 Pandangan psikologi perkembangan, pola asuh otoriter sering dikaitkan dengan berbagai dampak negatif terhadap kondisi emosional, sosial, dan kognitif anak. Penting untuk memahami dampak tersebut berdasarkan teori tokoh psikologi dan penelitian ilmiah.

Adapun Teori-teori pola asuh otoriter sebagai Berikut:


1.    Teori Diana Baumrind 
Diana Baumrind (1967) mengemukakan tiga jenis pola asuh, yaitu authoritarian (otoriter), authoritative, dan permissive. Pola asuh otoriter memiliki ciri:


•    Kontrol tinggi: orang tua otoriter menerapkan standar perilaku yang ketat dan menuntut kepatuhan penuh dari anak tanpa fleksibilitas. Anak diharapkan mengikuti aturan tanpa banyak pertanyaan.


•    Kehangatan rendah: Dalam buku Childhood and Society, Erikson (1963) menjelaskan bahwa kurangnya kehangatan dan dukungan emosional dari orang tua dapat menghambat perkembangan kepercayaan diri dan rasa aman anak.


•    Hukuman sebagai alat disiplin:  menyebutkan bahwa pola asuh otoriter cenderung menggunakan hukuman (baik verbal maupun fisik) sebagai cara utama untuk mengontrol perilaku anak, bukan melalui penjelasan atau dialog.


•    Komunikasi satu arah: Berdasarkan penelitian oleh Maccoby & Martin (1983), komunikasi dalam pola asuh otoriter bersifat satu arah, di mana orang tua memberi perintah dan anak diharapkan patuh tanpa diskusi.
•    Menurut Baumrind, anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter cenderung:
•    Kurang percaya diri
•    Takut mengambil Keputusan 
•    Memiliki kecenderungan agresif atau memberontak

2.    Teori Albert Bandura (Self-Efficacy)
Albert Bandura menekankan pentingnya self-efficacy (keyakinan diri) dalam perkembangan individu. Dalam konteks stict parents:


•    Anak sering mendapat tekanan dan kritik tinggi: •  Anak dituntut selalu benar atau sempurna, sehingga sering merasa tertekan dan takut melakukan kesalahan. 
•    Kesempatan untuk mencoba dan gagal terbatas: Anak jarang diberi ruang untuk belajar dari pengalaman sendiri, sehingga kurang berani mencoba hal baru. 
Akibatnya: 
•    Self-efficacy anak rendah
•    Anak merasa tidak mampu dan bergantung pada orang lain


3.    Teori Erik Erikson (Psikososial)
Menurut Erikson, perkembangan anak melalui tahap psikososial, seperti:
•    Autonomy vs Shame and Doubt: •  Menurut Erikson (1963), pada tahap ini anak belajar mandiri. Jika anak terlalu dikontrol atau sering disalahkan, anak akan merasa ragu dan tidak percaya diri terhadap kemampuannya sendiri. 
•    Initiative vs Guilt: Pada tahap ini, anak mulai berinisiatif melakukan sesuatu. Namun, jika sering dilarang atau dikritik, anak bisa merasa bersalah dan takut untuk mencoba hal baru. 


4.    Teori Sosial-Emosional 
Dalam teori perkembangan sosial-emosional, hubungan yang hangat antara orang tua dan anak sangat penting. Namun pada stict parents: 


•    Interaksi emosional terbatas: Menurut Berk (2013), hubungan orang tua–anak yang kurang hangat dan minim komunikasi emosional dapat membuat anak kesulitan memahami dan mengekspresikan perasaan.
•    Anak kurang mendapatkan dukungan emosional: Santrock (2011) menjelaskan bahwa dukungan emosional dari orang tua sangat penting untuk perkembangan psikologis. Jika hal ini kurang, anak cenderung merasa tidak aman, kurang percaya diri, dan mudah cemas. 


Dampak Psikologis Anak dengan Strict Parents
1.    Rendahnya kepercayaan diri
2.    Tingkat Stres dan Kecemasan Tinggi
3.    Prilaku Agresif atau Memberontak
4.    Kurangnya kemandirian
5.    Gangguan perkembangan social
6.    Penurunan kesejahteraan psikologis 

Pola asuh strict parents atau otoriter memiliki dampak signifikan terhadap kondisi psikologis anak. Dampak tersebut meliputi rendahnya kepercayaan diri, meningkatnya kecemasan, perilaku agresif, kurangnya kemandirian, serta gangguan sosial-emosional.[]