Oleh: Nayla Zhafira
Penulis adalah mahasiswi Fakultas Kedokteran Prodi Psikologi USK Banda Aceh
SABANGINFO.COM, BANDA ACEH - Di Tengah Era teknologi, hampir seluruh masyarakat Indonesia menggunakan media sosial sebagai bagian dari sendi kehidupan, baik Generasi tua , muda maupun anak - anak.
Berbagai platform media sosial digunakan seperti Facebook, Instagram, Tiktok, Twitter bukan hanya sekedar media komunikasi tetapi juga mengekspresikan diri.
Mencari pengakuan di media sosial (validation seeking) adalah perilaku ketergantungan pada like, komentar, dan share untuk merasa berharga, yang sering memicu kecemasan dan rendahnya harga diri. Ciri-cirinya meliputi selfie berlebihan, pencitraan kehidupan sempurna, dan update status demi validasi. Cara mengatasinya adalah dengan membatasi screen time, membangun self-love, dan detoks digital.
Sehingga Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan :
Apakahperilaku tersebut mencerminkan kebutuhan psikologis yang normal pada manusia atau justru
sekedar kebiasaan yang terbentuk akibat tekanan media sosial?.
Dalam Pandangan Psikologi, perilaku manusia yang ingin dihargai, diakui, dan diterima itu merupakan hal yang wajar. Sebagai makhluk sosial manusia pastinya membutuhkan penerimaan ataupun penghargaan dari orang lain.
Karena Media sosial seringkali menjadi media representasi diri. Melalui postingan foto yang diunggah, mereka akan berusaha agar foto yang diunggah terlihat bagus dan enak dipandang agar respons yang didapatkan seperti like dan komentar memberikan rasa kepuasan pada mereka. (Winda dan Rahma: 2023)
Penggunaan media sosial, dapat mengakibatkan ketergantungan terhadap validasi eksternal dimana pengakuan diperlukan untuk merasa diri bernilai ( Bayu prasetya, dkk. 2025 ).
Berikut adalah poin-poin penting mengenai fenomena mencari pengakuan di media sosial:
Ciri-ciri "Haus Validasi" di Media Sosial
- Ketergantungan Engagement: Mengukur kebahagiaan dari jumlah like dan komentar; sering menghapus postingan dengan respons rendah.
- Pencitraan Sempurna: Sering mengunggah konten yang menunjukkan kehidupan seolah-olah sempurna untuk memancing rasa iri atau kagum.
- Selfie & Pamer Berlebihan: Mengunggah foto diri (selfie) atau pencapaian secara terus-menerus untuk mendapatkan pujian.
- Status Provokatif: Membuat caption atau cerita yang memancing reaksi emosional atau rasa penasaran orang lain.
- Membandingkan Diri: Selalu membandingkan kehidupan diri sendiri dengan kehidupan orang lain yang tampak di medsos.
Dalam hal ini perilaku mencari validasi tidak lagi sebagai kebutuhan melainkan kebiasaan yang tumbuh akibat lingkungan digital . Peristiwa ini juga memiliki dampak langsung terhadap psikologi individu dalam membentuk dan menampilkan diri.
Dampak Negatif Terlalu Mencari Validasi
- Harga Diri Rendah: Merasa berharga hanya jika dipuji, dan merasa tidak berarti saat diabaikan.
- Kecemasan & FOMO: Takut ketinggalan tren (Fear of Missing Out) dan cemas akan penolakan.
- Kesepian: Merasa tidak bahagia dan kurang puas dengan kehidupan nyata.
Bahkan, Beberapa pengguna media sosial membangun citra diri mereka di media sosial dengan versi terbaik diri agar mendapatkan respons positif dari orang lain.
Reperesentasi diri di media sosial yang menunjukkan bahwa terkadang individu menampilkan citra diri yang palsu di media sosial, dapat diartikan bahwa pada realita bisa saja memiliki citra diri yang sebaliknya dari media sosial. Ketergantungan validasi ini juga berakibat pada kesehatan mental. ( Ananda 2024 )
Personal yang ketergantungan akan respons orang lain cenderung akan lebih mudah mengalami perubahan suasana hati akibat mendapatkan repons yang tidak sesuai ekspetasi. Misalnya, individu tersebut. sudah menampilkan foto yang sangat bagus dan menarik awalnya, ia akan mengira bahwa semua orang akan terkesima oleh foto yang diunggahnya, tetapi justru sebaliknya ia mendapatkan hal yang diluar ekspetasi dia.
Peristiwa ini dapat menimbulkan cemas, overthinking berlebih bahkan dapat menurunkan harga diri. Namun demikian, validasi tidak selalu berdampak negatif, Jika perilaku validasi tidak melampaui batas tertentu, validasi bisa menjadi pendorong emosional sehingga individu merasa diterima di lingkungan sosial ( Adelheid, dkk. 2025).
Perilaku mencari pengakuaan di media sosial tidak sapat dipandang secara hitam putih yang berarti tidak sepenuhnya buruk dan tidak sepenuhnya baik. Melalui kajian ini validasi merupakan perilaku alami manusia sebagai kebutuhan individu sebagai makhluk sosial, tetapi jika berlebihan hal ini dapat membentuk kebiasaan individu bergantung pada pengakuan orang lain.
Cara Berhenti Mencari Pengakuan di Medsos
- Self-Validation: Belajar menghargai diri sendiri tanpa perlu pengakuan orang lain.
- Batasi Penggunaan: Mengurangi waktu scrolling dan tidak memulai hari dengan membuka media sosial.
- Detoks Digital: Berhenti menggunakan media sosial selama beberapa hari.
- Fokus Dunia Nyata: Membangun hubungan nyata dan melakukan hobi yang produktif.
- Kurangi Pencitraan: Berpikir sebelum memposting dan evaluasi apakah motivasinya untuk berbagi atau hanya mencari pujian.
Oleh karena itu, setiap individu harus mampu dalam mengontrol diri dalam menggunakan sosial
media dan tidak menjadikan validasi sebagai penilaian diri Validasi dari media sosial bersifat sementara dan seringkali tidak tulus. Membangun kepercayaan diri dari dalam diri sendiri jauh lebih sehat daripada bergantung pada interaksi di dunia maya.[]
