Dampak Psikologis Anak Akibat Broken Home



 Oleh: Amanda Fatihana Zahra 

Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Kedokteran Prodi Psikologi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh 

 

SABANGINFO.COM, BANDA ACEH - Keluarga adalah Fondasi utama anak proses tumbuh dan kembangnya, terutama dalam pembentukan kepribadian, Karakter, emosi, dan perilaku sosial. Keluarga yang harmonis biasanya memberikan  rasa aman, kasih sayang, serta dukungan yang dibutuhkan anak. begitu juga Sebaliknya, keluarga  tidak harmonis atau broken home dapat menimbulkan berbagai dampak psikologis pada anak.



Broken home terjadi akibat perceraian orang tua, konflik keluarga yang berkepanjangan, atau ketidakhadiran salah satu orang tua dalam kehidupan anak. Situasi ini dapat mempengaruhi perkembangan emosional, sosial, dan kognitif anak.

 

 Oleh karena itu, penting untuk memahami dampak psikologis anak akibat  broken home dengan menggunakan perspektif psikologi dari para tokoh yang telah mengkaji perkembangan anak dan perilaku manusia.

 

Keluarga adalah unit sosial terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan

 

Ia merupakan pondasi utama perkembangan individu, tempat pertama menanamkan nilai agama, moral, kasih sayang, dan pelindung emosional yang utama.

 

 Makna Broken Home

Broken home adalah kondisi keluarga yang tidak utuh atau tidak harmonis sehingga menyebabkan terganggunya fungsi keluarga sebagai tempat perlindungan dan pembinaan bagi anak. Broken home tidak hanya merujuk pada perceraian orang tua, tetapi juga mencakup keluarga yang sering mengalami pertengkaran, kekerasan, atau kurangnya komunikasi yang sehat.

Kondisi Anak di lingkungan keluarga broken home mudah  mengalami tekanan emosional dan kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Hal ini dapat berdampak pada perkembangan kepribadian dan kesehatan mental anak.

 
Berikut Beberapa Dampak Psikologis Anak Broken Home Menurut Teori Tokoh Psikologi :

1. Teori Psikososial (Erik Erikson)

Menurut Erik Erikson, perkembangan manusia terdiri dari beberapa tahap psikososial yang harus dilalui sepanjang kehidupan. Pada masa anak-anak dan remaja, individu berada pada tahap:

* Kurangnya rasa percaya kepada orang lain : terjadi karena anak gagal mengembangkan rasa aman (trust) akibat kurangnya dukungan keluarga.
* Merasa rendah diri : anak tidak mendapatkan dorongan dan penghargaan, sehingga gagal pada tahap industry vs inferiority.
* Mengalami kebingungan identitas : muncul pada tahap identity vs role confusion karena kurangnya arahan dan stabilitas dari keluarga.


ini terjadi karena lingkungan keluarga tidak memberikan rasa aman dan dukungan yang dibutuhkan dalam proses perkembangan anak.
 

2. Teori Kelekatan (Attachment Theory) John Bowlby

John Bowlby menjelaskan bahwa hubungan emosional yang kuat antara anak dan orang tua disebut attachment. Kelekatan yang aman (secure attachment) sangat penting untuk perkembangan emosional anak. Dalam keluarga broken home, hubungan kelekatan dapat terganggu, sehingga anak mungkin mengalami:

* Rasa tidak aman : muncul ketika hubungan emosional anak dengan orang tua tidak stabil atau kurang perhatian, sehingga anak merasa tidak terlindungi.
* Ketakutan ditinggalkan : terjadi karena pengalaman kehilangan atau jarangnya kehadiran orang tua, sehingga anak menjadi cemas akan perpisahan.
* Kesulitan mempercayai orang lain : anak yang tidak memiliki kelekatan yang aman (secure attachment) cenderung ragu dan sulit membangun kepercayaan dengan orang lain.
* Masalah dalam hubungan sosial : kurangnya kelekatan yang sehat dapat membuat anak kesulitan berinteraksi, menjalin persahabatan, dan menyesuaikan diri di lingkungan sosial.
Menurut teori ini, kehilangan atau kurangnya kedekatan dengan orang tua dapat menyebabkan masalah emosional jangka panjang.​

 

3. Teori Belajar Sosial Albert Bandura

Menurut Albert Bandura, perilaku manusia dipelajari melalui proses observasi dan peniruan terhadap lingkungan sekitar. Anak belajar dari apa yang mereka lihat, terutama dari orang tua. Jika anak sering menyaksikan konflik atau pertengkaran dalam keluarga, mereka dapat meniru perilaku tersebut. Dampaknya antara lain:

* Perilaku agresif : menurut Albert Bandura, anak dapat menunjukkan perilaku agresif karena meniru tindakan yang sering mereka lihat, seperti pertengkaran atau konflik dalam keluarga.
* Mudah marah : anak belajar mengekspresikan emosi dengan cara yang sama seperti orang di sekitarnya, terutama jika sering melihat orang tua bereaksi dengan kemarahan.
* Kesulitan mengendalikan emosi : terjadi karena anak belum memiliki contoh yang baik tentang cara mengelola emosi secara sehat dari lingkungan keluarga.
* Meniru pola komunikasi yang negatif : anak cenderung mencontoh cara berbicara yang kasar, membentak, atau tidak menghargai orang lain karena perilaku tersebut sering mereka amati dalam interaksi keluarga.
Teori ini menjelaskan mengapa anak broken home kadang menunjukkan perilaku yang bermasalah.

4. Teori Behavioristik B. F. Skinner

Menurut B. F. Skinner, perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan melalui proses penguatan (reinforcement) dan hukuman (punishment).

Dalam keluarga broken home:

* Kurangnya perhatian dari orang tua dapat menjadi bentuk kurangnya penguatan positif
* Hukuman yang tidak konsisten dapat menyebabkan perilaku negatif
Akibatnya, anak mungkin:

* Mencari perhatian dengan perilaku menyimpang : menurut B. F. Skinner, perilaku dapat muncul karena anak ingin mendapatkan perhatian dari lingkungan, terutama jika jarang menerima perhatian atau penghargaan yang positif.
* Menjadi tidak disiplin : terjadi karena kurangnya aturan yang konsisten atau penguatan (reinforcement) dari orang tua dalam membentuk kebiasaan yang baik.
* Mengalami kesulitan mengontrol perilaku : anak belum belajar mengendalikan perilakunya dengan baik karena lingkungan tidak memberikan bimbingan, contoh, atau konsekuensi yang jelas terhadap perilaku mereka.
 

5. Teori Kebutuhan Abraham Maslow

Menurut Abraham Maslow, manusia memiliki kebutuhan yang tersusun dalam bentuk hierarki, mulai dari kebutuhan dasar hingga kebutuhan aktualisasi diri.

Kebutuhan yang penting bagi anak dalam keluarga adalah:

* Kebutuhan akan rasa aman : menurut Abraham Maslow, anak membutuhkan lingkungan yang stabil dan aman; jika tidak terpenuhi, anak akan merasa cemas dan tidak nyaman.
* Kebutuhan akan kasih sayang : anak memerlukan cinta dan perhatian dari orang tua; kekurangan hal ini dapat membuat anak merasa kesepian dan tidak dicintai.
* Kebutuhan akan penghargaan : anak membutuhkan pengakuan dan dukungan agar merasa berharga; jika tidak terpenuhi, dapat menyebabkan rendahnya harga diri dan kepercayaan diri.
Dalam keluarga broken home, kebutuhan tersebut sering tidak terpenuhi, sehingga anak dapat mengalami:

* Rasa tidak aman : menurut Abraham Maslow, muncul ketika kebutuhan dasar seperti rasa aman dan perlindungan tidak terpenuhi dalam keluarga.
* Kesepian : terjadi karena kurangnya kasih sayang dan kedekatan emosional dengan orang tua atau anggota keluarga.
* Rendahnya harga diri : anak merasa tidak dihargai atau tidak diperhatikan, sehingga memengaruhi kepercayaan dirinya.
* Kesulitan mencapai potensi diri : jika kebutuhan dasar dan emosional tidak terpenuhi, anak akan sulit berkembang secara optimal dan mencapai kemampuan terbaiknya.
 


Faktor yang Memengaruhi Dampak Psikologis Anak Broken Home



Tidak semua anak broken home mengalami dampak yang sama. Beberapa faktor yang memengaruhi tingkat dampak psikologis antara lain:

1. Usia anak saat mengalami perpisahan orang tua
2. Tingkat konflik dalam keluarga
3. Dukungan dari keluarga dan lingkungan
4. Kepribadian anak
5. Kondisi ekonomi keluarga
6. Pola asuh orang tua setelah perceraian
 

Upaya Mengatasi Dampak Psikologis Anak Broken Home


ini langkah yang dapat dilakukan untuk membantu anak menghadapi kondisi broken home sebagai berikut:

1. Memberikan kasih sayang dan perhatian yang konsisten
2. Menjaga komunikasi yang terbuka dengan anak
3. Menghindari konflik di depan anak
4. Memberikan lingkungan yang aman dan stabil
5. Memberikan dukungan dari guru, keluarga, atau konselor
6. Melibatkan anak dalam kegiatan positif.


Kondisi broken home dapat mempengaruhi emosi, perilaku, dan prestasi akademik anak jika tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari lingkungan sekitar.[]