SABANGINFO.COM, PIDIE JAYA — Upaya pemulihan pascabanjir di Kabupaten Pidie Jaya dilakukan melalui pendekatan terpadu yang menyasar kesehatan, literasi, dan dukungan psikososial warga. Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) bersama Natural Aceh (NA) menggelar Aksi Kemanusiaan Batch 8 di Dusun Meunasah Lhoknga, Gampong Masjid Tuha, Kecamatan Meureudu, Minggu (1/2/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Program Pendampingan Percepatan Pemulihan Desa (P3D) yang memadukan pelayanan kesehatan umum, pelatihan kader Taman Baca Masyarakat (TBM), soft launching taman baca, pendampingan psikososial anak, serta edukasi standar jurnalisme warga di situasi bencana.
Pada layanan kesehatan umum, tim relawan melayani 62 pasien dengan keluhan beragam, mulai dari infeksi saluran pernapasan, penyakit kulit, gangguan pencernaan, hingga keluhan kelelahan pascabanjir. Pelayanan dilakukan langsung di titik kegiatan desa untuk memudahkan akses warga, terutama kelompok rentan.
Ketua Tim Reaksi Cepat GEN-A, dr. Intan Qanita, mengatakan layanan kesehatan lapangan masih sangat dibutuhkan pada fase pascabencana karena banyak warga menunda pemeriksaan akibat keterbatasan akses dan biaya.
“Pada fase pascabanjir, keluhan kesehatan sering dianggap ringan dan ditunda penanganannya. Padahal, jika tidak ditangani cepat, bisa berkembang menjadi lebih serius. Karena itu, layanan jemput bola seperti ini penting,” ujarnya.
Selain layanan kesehatan, kegiatan juga difokuskan pada penguatan literasi desa melalui pembentukan dan penguatan pengelolaan Taman Baca Masyarakat. Sebanyak 7 kader pengurus TBM dari unsur pemuda dan remaja setempat mengikuti pelatihan teknis yang difasilitasi tim GEN-A dan Natural Aceh.
Materi pelatihan mencakup sistem pengelolaan TBM, pembagian peran pengurus, inventarisasi koleksi, pencatatan kunjungan, pelaporan peminjaman, pembuatan kartu anggota, hingga pendataan dan pelabelan buku. Pendekatan ini ditujukan agar taman baca tidak berhenti sebagai simbol bantuan, tetapi tumbuh menjadi pusat belajar berbasis komunitas.
Soft launching taman baca desa turut diikuti sekitar 30 anak, yang langsung terlibat dalam sesi membaca bersama dan pengenalan koleksi buku. Program ini menjadi bagian dari inisiatif Ruang Baca Harapan yang dikembangkan sebagai ruang aman belajar dan beraktivitas bagi anak-anak desa terdampak bencana.
Pendampingan psikososial anak dilakukan melalui pendekatan literasi dan permainan kolaboratif. Sesi ini dipimpin oleh Azrifa Safiranda, S.Pd, yang mengajak anak-anak membaca cerita, berdiskusi ringan, serta bermain bersama untuk membangun kembali rasa aman dan kepercayaan diri.
“Pendekatan membaca dan bermain membantu anak mengekspresikan perasaan tanpa tekanan. Mereka lebih mudah terhubung lewat cerita dan aktivitas kelompok,” kata Azrifa.
Di lokasi yang sama, edukasi standar jurnalisme warga juga diberikan kepada masyarakat. Sekitar 40 peserta mengikuti sesi yang dibawakan oleh Maulana Kamal, S.I.Kom, Edukator GEN-A. Materi menekankan pentingnya dokumentasi peristiwa bencana secara bertanggung jawab, dengan mencantumkan waktu, lokasi, fakta, dan sumber yang jelas, serta menghindari narasi spekulatif.
Direktur Eksekutif GEN-A, dr. Imam Maulana, menegaskan bahwa pemulihan pascabencana perlu dilihat secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi bantuan fisik.
“Pemulihan desa tidak cukup hanya dengan logistik dan layanan medis. Literasi, dukungan psikososial, dan kapasitas warga dalam mengelola informasi juga penting agar masyarakat lebih tangguh menghadapi risiko ke depan,” ujarnya.
Menurutnya, pelibatan kader lokal dalam pengelolaan taman baca dan edukasi masyarakat menjadi investasi sosial jangka panjang. “Saat warga menjadi pelaku utama pemulihan, dampaknya biasanya lebih bertahan lama,” kata Imam.
Melalui kegiatan ini, GEN-A dan Natural Aceh berharap desa memiliki lebih banyak penggerak lokal yang mampu mengelola ruang baca, mendampingi anak, serta menyebarkan informasi secara lebih akurat dan bertanggung jawab saat terjadi situasi darurat.[]
