SABANGINFO.COM, ACEH TENGAH — MIT Foundation bersama Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) menggelar Aksi Kemanusiaan Batch 7 bagi penyintas bencana di Mendale, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah, Rabu (28 Januari 2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari respons darurat bencana Aceh yang didukung para donatur dari Negeri Sabah, Malaysia.
Aksi kemanusiaan ini mencakup pelayanan kesehatan umum, pendampingan psikososial, penyaluran logistik, serta edukasi standar jurnalisme warga di situasi bencana. Kegiatan dilaksanakan secara terpadu agar kebutuhan fisik dan psikososial masyarakat terdampak dapat tertangani secara berimbang.
Pada layanan kesehatan umum, tim medis GEN-A melayani 44 orang pasien dengan keluhan beragam, mulai dari infeksi saluran pernapasan, penyakit kulit, gangguan pencernaan, hingga keluhan pascabanjir lainnya. Pelayanan dilakukan langsung di lokasi terdampak untuk menjangkau warga yang kesulitan mengakses fasilitas kesehatan.
Ketua Tim Reaksi Cepat GEN-A (TRC GEN-A), dr. Intan Qanita, menjelaskan bahwa layanan medis lapangan menjadi krusial di masa pascabencana.
“,"Banyak warga menunda berobat, beberapa dari mereka bahkan mulai kehabisan stok pengobatan rutin, khususnya untuk penyakit-penyakit komorbid seperti diabetes dan hipertensi. Kehadiran layanan kesehatan di lokasi membantu mencegah kondisi ringan menjadi serius, misalnya penyakit infeksi saluran napas yang mulai berkembang akibat debu yang dihasilkan banjir dan longsor" ujarnya.
Selain layanan kesehatan, tim juga menyalurkan 50 paket keluarga berisi bahan makanan pokok, alat salat, Alquran, dan Iqra. Bantuan diserahkan langsung kepada keluarga penyintas untuk memastikan kebutuhan dasar dan spiritual dapat terpenuhi secara layak di masa pemulihan awal.
Direktur Eksekutif GEN-A, dr. Imam Maulana, menyampaikan apresiasi kepada seluruh relawan dan donatur yang telah bergerak bersama GEN-A.
“Kami berterima kasih kepada para relawan dan para donatur yang telah mempercayakan bantuannya. Meski tidak bisa disebutkan satu per satu, kontribusi mereka sangat berarti bagi penyintas,” katanya.
*Pendampingan Psikososial Anak*
Pendampingan psikososial juga dilakukan di SD Negeri 9 Kebayakan, dengan melibatkan 50 siswa kelas 1 hingga kelas 6. Kegiatan dilaksanakan melalui pendekatan ramah anak, seperti bermain bersama, saling mengenal, berbagi cerita, serta diskusi ringan tentang cita-cita dan harapan.
Anak-anak diperkenalkan pada konsep doa, ikhtiar, tawakkal, dan tawadhu secara sederhana dan kontekstual. Pendekatan ini bertujuan membantu anak merasa aman, menenangkan emosi, serta menumbuhkan kembali rasa percaya diri setelah mengalami situasi bencana.
“Anak-anak sering terlihat ceria, tetapi menyimpan kecemasan. Pendampingan psikososial membantu mereka memproses pengalaman itu dengan cara yang sehat,” kata Ns. Zafira Nabilah, S.Kep selaku edukator sesi ini bersama dr. Imam Maulana.
*Edukasi Jurnalisme Warga*
Di sela kegiatan, GEN-A dan MIT Foundation juga memberikan edukasi standar jurnalisme warga kepada masyarakat yang menunggu antrean pengobatan. Maulana Kamal, S.Ikom (Edukator GEN-A) melalu materinya menekankan pentingnya merekam peristiwa bencana secara bertanggung jawab, dengan mencantumkan identitas, waktu, lokasi, dan fakta, serta menghindari asumsi dan provokasi.
Founder MIT Foundation, Teuku Farhan, menegaskan bahwa edukasi ini penting di era media sosial.
“Video warga bisa menolong, tapi juga bisa menyesatkan. Edukasi ini bertujuan agar masyarakat tetap berempati dan bijak bermedia di situasi bencana,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi dengan GEN-A menekankan bahwa aksi kemanusiaan tidak hanya soal bantuan logistik, tetapi juga literasi, kesehatan mental, dan martabat penyintas.
Melalui Aksi Kemanusiaan Batch 7 ini, MIT Foundation dan GEN-A berharap proses pemulihan penyintas Aceh Tengah dapat berjalan lebih menyeluruh dan menyentuh aspek kesehatan, psikososial, spiritual, dan literasi masyarakat, sekaligus memperkuat solidaritas lintas komunitas dan lintas negara.[]
