SABANGINFO.COM,ACEH BESAR - Pada zaman dahulu kesultanan Aceh Darussalam adalah kesultanan besar yang terkenal dengan kekuatan militer, ekonomi dan perkembangan intelektual dan budayanya. Pada zaman dahulu Aceh kaya dengan lada yang dicari Bangsa Barat dan kisah kemakmuran itu diwariskan dari generasi ke generasi.
Pada Zaman kesultanan Aceh Darussalam era Sultan Alaidin Al Kahhar (1539-1571 M) Sultan Alaidin Al Kahhar terkenal kuat dan pemberani dan berusaha mengusir penjajah Portugis dari Malaka. Aceh saat itu kerajaan kuat dan kaya lada namun kekurangan senjata meriam penghancur benteng. Itu memperkuat kesultanan Aceh akhirnya Sultan Alaidin Al Kahhar mengurus Panglima Nyak Dum ke negeri Rum.
Panglima Nyak Dum harus menunggu 2 tahun lamanya karena Sultan Suleiman Al Qanuni wafat. Kemudian barulah Utusan Aceh diterima oleh Sultan Selim 2 dari Turki. Ketika membawa hadiah hanya tertinggal secupak lada. Namun Sultan Turki yang amat Bijaksana menerima hadiah itu dan membalas dengan mengirimkan Meriam dan Ahli militer dari Turki. Kisah tersebut kemudian dikenang dalam hikayat Aceh.
Deungoe Kisah Panglima Nyak Dum
U Nanggroe Rum trok keubungka
Meriam Lada Sicupak keunoe neupeuwoe
neupeujaroe bak Po Meukuta
(Dengarlah kisah Panglima Nyak Dum
Ke Negeri Rum berlayarnya
Meriam Lada Sicupak dibawa pulang
Diberikan Kepada Sang Raja )
Kisah Meriam Lada Sicupak menandakan pentingnya peran lada era kesultanan Aceh Darussalam. Pada Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) zaman kegemilangan Aceh yang tambah kaya raya. Sultan memerintahkan rakyat menanam lada sehingga kawasan gunung dan bukit di Aceh kaya akan tanaman lada. Banyak sekali Seuneubok Lada (Kebun Lada) baru yang dibuka sehingga Aceh tambah kaya raya.
Lam lhok Aceh peulabuhan
Kapai dagang keunan teuka
Tanoh Aceh yoh nyan makmu
Barang laku pineung lada
(Dalam Teluk Aceh Pelabuhan
Kapal dagang banyak datang kesana
Tanah Aceh saat itu sangat makmur
Barang yang laku Pinang Lada)
Kekayaan ini digunakan oleh Sultan Memperkuat militer Aceh sehingga bisa mengancam kekuatan asing didunia Melayu. Admiral Beulieu dari Perancis menyebutkan Sultan Iskandar Muda berhasil membuat pasukan Aceh sebagai pasukan penggeger bumi saat itu.
Kekayaan lada Aceh terus berlangsung sejak masa Iskandar Muda hingga menjelang perang Aceh melawan Belanda. Pada saat Zaman Sultan Ibrahim Mansyur Syah (1857-1870 M) Sultan Ibrahim Mansyur Syah memperkuat perdagangan Lada Aceh. Pada masa Sultan Ibrahim Mansyur Syah Aceh mencapai kegemilangan dengan memasok setengah lada dunia. Hampir semua negara besar saat itu berdagang ke Aceh.
Wafatnya Sultan Ibrahim Mansyur Syah tahun 1870 M. Saat itu keadaan Aceh menjadi genting disusul meletusnya perang Aceh Belanda 1873-1942 M membuat perdagangan lada di Aceh berubah. Belanda memblokir perdagangan lada Aceh sehingga akibatnya lada Aceh tidak bisa bebas diperdagangkan ke dunia Internasional. Perang Aceh dengan Jepang 1942-1945 M membuat peran penting lada kian memudar. Sejak memasuki era modern perkebunan lada Aceh mulai ditinggalkan. Perlu langkah penting semua pihak dalam menghidupkan kembali komoditas Aceh berupa lada dll sebagai bagian perkembangan ekonomi Aceh era modern.[]
